TEMPO.CO, Tasikmalaya - Profesi sebagai tukang ojek, lazimnya dijalani oleh kaum Adam. Namun di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ada seorang wanita yang berprofesi sebagai tukang ojek. Dia bernama Ade Cita, warga Kampung Cibuyut, Desa Cileuleus, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Usianya baru 32 tahun.
Ade sudah ngojek sejak tahun 1998, atau saat usianya baru 15 tahun. "Saya tidak melanjutkan sekolah ke SMA. Lalu saya bantu-bantu orang tua dengan berjualan kue bikinan tetangga. Jualan kecil-kecilan," kata dia saat ditemui di rumahnya, Ahad, 21 April 2013.
Sambil jualan, Ade belajar mengendarai sepeda motor milik bapaknya. Setelah bisa, dia berinisiatif menjadi tukang ojek. Dia menggunakan sepeda motor bapaknya, jenis Honda buatan tahun 1970, untuk mengojek. "Dulu saya mangkal, tapi sekarang punya langganan sendiri," ucap dia.
Awalnya, hanya tetangganya saja yang menjadi langganan ojek. Kini sudah banyak pelanggan dari luar kampungnya yang biasa diantar jemput oleh Ade. "Pelanggan biasanya menelepon jika ingin diantar oleh saya," kata dia.
Hingga sekarang, Ade memiliki sekitar 80 pelanggan. Pelanggannya mulai dari pedagang di pasar, sampai penyanyi dangdut. "Kita kan sama-sama perempuan, jadi mungkin mereka tidak canggung saat dibonceng saya," dia menjelaskan.
Lama memakai motor bapaknya, tahun 2005, Ade nekat mengkredit sepeda motor dari dealer. "Sejak ngojek dari tahun 1998 hingga 2005, saya bisa mengumpulkan uang Rp 1,5 juta. Uang itu dipakai untuk uang muka. Angsuran per bulannya Rp 450 ribu. Alhamdulillah tahun 2008 lunas," Ade membeberkan.
Setelah lunas, dia menjaminkan BPKB sepeda motor di bank. Uang pinjaman digunakannya untuk merehab rumah. "Sisanya untuk membantu bapak, karena orang tua saya sudah tidak bekerja."
Tidak hanya antar jemput di sekitar kampungnya, Ade pernah mengantar pelanggannya sampai ke Kota Bandung. Bahkan sejumlah kota di Priangan Timur telah didatanginya untuk mengantar pelanggan.
"Nganterin terjauh ke Bandung, Cikajang-Garut, Pangandaran. Saya ngantar barang dan antar langganan," dia menjelaskan.
Saat ngojek ke Bandung, dia mendapat upah Rp 150 ribu. "Dari Tasik jam delapan malam, sampai sana jam satu malam. Saya tidak khawatir jalan malam, asal kita dekat dengan Allah."
Suka duka menjadi tukang ojek telah dirasakan Ade selama 15 tahun. Pengalaman paling pahit, menurut dia, saat motornya mogok di suatu tempat yang jauh dari permukiman.
"Jalannya rusak, nanjak, lalu jauh dari pemukiman. Saya terpaksa mendorong motor sejauh satu kilo dengan jalanan menanjak," kata Ade, sejenak mengenang.
Pengalaman lain, lanjut dia, ketika dia ditilang. Polisi yang menilang sempat terkecoh dan tidak percaya bahwa Ade adalah perempuan. "Ketika di Subang (Jawa Barat) saya ditilang. Pas diminta SIM, polisi kaget melihat foto di SIM. Dia lalu minta saya buka helm. Setelah yakin saya perempuan, saya diizinkan jalan kembali," kata dia.
Ade pernah berkeluarga tahun 2004. Namun usia pernikahannya hanya bertahan tujuh bulan. Dia dan suaminya bercerai. "Ya mungkin sudah nasib. Sekarang ada sih kemauan nikah lagi, tapi Allah belum mentakdirkan,".
Ade mengaku senang dengan profesi yang dijalaninya sekarang. Dia tidak merasa minder sedikitpun. "Saya enjoy, yang penting kerja halal. Saya bisa bantu orang tua," dia menandaskan.
Sementara orang tua Ade, Kamaludin, mengaku bangga terhadap putri bungsunya itu. Kepada Ade, dia selalu berpesan agar bekerja dengan jujur dan mencari nafkah halal.
Kamaludin juga berpesan agar Ade tidak lupa menunaikan shalat. "Setiap mengojek, saya selalu tanya bawa mukena tidak, sudah solat belum," kata dia.
CANDRA NUGRAHA
Komentar
Posting Komentar